Jumat, 01 September 2023

Ritual Anak Sebelum Tidur

 

Ritual Anak Sebelum Tidur

Ritual Anak Sebelum Tidur. Sebelum tidur, apa aktivitas favorit Anda bersama anak, Bun? Sebagian besar orang tua pasti punya rutinitas tersendiri saat menemani si kecil sebelum tidur di malam hari. Apalagi seiring bertambahnya usia, anak-anak jadi lebih aktif sehingga tidak jarang sulit diajak tidur tepat waktu. Padahal, tidur tepat waktu membuat anak tidak mudah kelelahan keesokan harinya.
Mengajak anak melakukan kegiatan menyenangkan bersama-sama akhirnya jadi solusi agar anak lebih tenang di malam hari. Selain dapat menyalurkan energi si kecil agar tidur lebih nyenyak, hubungan antara orang tua dan si kecil juga bisa lebih dekat dan erat saat melakukan aktivitas bersama. 
Nah, salah satu cara menyiasatinya adalah memperkenalkan serangkaian aktivitas sebagai ritual malam sebelum tidur pada anak. Penting untuk membuat ritual ini menyenangkan, dan melakukannya dengan konsisten agar menjadi kebiasaan.
Bagaimana caranya? Berikut ini salah satu rangkaian ritual yang bisa jadi pilihan:

1. Ajak anak bersih-bersih tubuh bersama

Meski sudah mandi di sore hari, aktivitas anak sering kali membuat pakaian serta badannya kembali kotor dan berkeringat. Untuk itu, biasakan anak peduli akan kebersihan diri dengan mengajaknya ganti pakaian, membersihkan badan, dan sikat gigi. Lanjutkan dengan mengoleskan minyak kayu putih atau essential oil di perut dan dadanya, dan juga lotion anti nyamuk ke kulit tangan serta kakinya untuk memastikan istirahat malamnya nyaman, terlindungi, dan menyenangkan.
Agar lebih menyenangkan, ajak anak bernyanyi atau bercerita sambil membersihkan dirinya sehingga ia pun tidak akan rewel atau bosan. Untuk anak yang lebih besar, jangan ragu juga untuk mengajak anak memilih baju tidurnya sendiri ya, Bunda. 

2. Pillow talk di balik selimut

Berbeda dengan bayi yang masih mudah diajak tidur dengan diberi susu, anak-anak yang sudah mulai bisa mengeksplor hal-hal baru di sekitarnya cenderung ingin selalu bermain tanpa mengenal waktu. Daripada memaksa si kecil tidur dan akhirnya justru membuatnya rewel, Anda bisa mengajak anak mengobrol tentang aktivitasnya hari itu. Misalnya tentang teman bermainnya, apa yang ia lakukan, atau cerita lainnya.
Selingi juga dengan candaan kecil saat mengobrol bersama. Selain mempererat bonding, kegiatan ini membuat anak merasa lebih berharga dan disayang oleh orang tuanya.

3. Bedtime stories

Membacakan dongeng sudah menjadi kebiasaan banyak orang tua untuk menemani anaknya sebelum tidur. Aktivitas ini dapat meningkatkan daya imajinasi anak, menambah kosa kata, hingga meningkatkan empati si kecil melalui tokoh-tokoh yang diceritakan.
Bunda, saat membacakan dongeng untuk anak, Anda bisa menggunakan mainan sebagai properti pendukung agar cerita makin seru. Namun sebelum itu, pastikan juga untuk memilih buku yang sesuai dengan usia anak dengan membaca keseluruhan isi bukunya terlebih dahulu.

4. Berikan sentuhan fisik

Jangan pandang sebelah mata sentuhan fisik antara ibu kepada anak sebelum tidur. Dilansir laman Parents, sentuhan fisik menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan orang tua dan anak yang dampaknya baik untuk kesehatan.
Bila rutin dilakukan, ritual good night hug and kiss ini dapat membuat si kecil memiliki koneksi lebih erat dengan orang tuanya, serta lebih terlindungi dari risiko stres penyebab kesulitan tidur. Sebelum tidur, Anda bisa memberikan pelukan hangat, usapan di kepala atau punggung, dan kecupan lembut kepada anak sambil ucapkan selamat malam.
Source : kumparan.com

8 Tipe Kecerdasan Anak

 8 Tipe Kecerdasan Anak. Tahukah Bunda, bahwa kecerdasan anak itu tidak bisa hanya diukur dan diakui dari intelegensi akademis dan penguasaan ilmu eksak saja? Keterampilan si Kecil yang fasih berkomunikasi atau bergerak aktif juga termasuk jenis kecerdasan, lho! Sebab, ada banyak jenis kecerdasan yang bisa dimiliki seorang anak.

Secara teori, jenis-jenis kecerdasan ini pertama kali dicetuskan oleh seorang psikolog terkemuka dari Harvard University bernama Howard Gardner pada tahun 1983 dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind : The Theory of Multiple Intelligences. 

Di dalam bukunya, Gardner menjelaskan bahwa kecerdasan seorang anak tidak bisa hanya diukur dari kapasitas intelektualnya saja, namun ada banyak jenis kecerdasan lain yang dapat menjadi ukurannya.

Yuk, baca lebih lanjut penjelasan berbagai macam jenis kecerdasan anak di bawah ini!

Apa Saja Jenis Kecerdasan Anak?

Bunda, jangan buru-buru mengambil kesimpulan dan memberikan label anak kurang cerdas hanya karena prestasi akademik si Kecil di sekolah kurang cemerlang, ya. Sebab, setiap anak diberkahi dengan kecerdasan yang berbeda-beda. Every child is blessed with their own speciality.   

Jika si Kecil menunjukkan minat yang besar pada binatang dan sangat baik dalam berinteraksi dengan berbagai macam hewan berarti ia di berkahi dengan kecerdasan naturalis.

Selain kecerdasan logis-matematik, masih ada jenis kecerdasan lainnya yaitu linguistik, spasial, kinestetik, musikal, naturalis, interpersonal, dan intrapersonal. Apa bedanya?

1. Kecerdasan Linguistik (Linguistic-verbal Intelligence) 

Seorang anak dengan kecerdasan linguistik memiliki kemampuan yang baik dalam memanipulasi kata-kata, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Oleh karena itu, anak dengan kecerdasan linguistik sangat baik dalam menulis berbagai jenis karya sastra, mengingat informasi, membaca, dan mempelajari bahasa baru.

Jadi dapat dikatakan, keahlian seorang dengan kecerdasan linguistik berpusat pada kata-kata, bahasa, dan tulisan.

Dengan kecerdasan ini, si Kecil akan tampak lebih senang berkutat dengan buku ceritanya daripada berlarian di taman atau belajar balet. Ia juga dapat menceritakan apa yang menjadi cita-citanya ketika tumbuh dewasa dengan alasan-alasan yang tersusun rapi.

Berikut karakteristik khusus lain yang dimiliki oleh seorang anak yang memiliki kecerdasan linguistik :

  • Dapat mengingat dengan baik informasi yang disampaikan secara verbal maupun tertulis.
  • Menyukai kegiatan membaca dan menulis.
  • Mampu mengutarakan pendapat yang sifatnya persuasif dengan baik.
  • Memiliki kemampuan untuk berdebat dengan baik.
  • Mampu menjelaskan sesuatu dengan baik.
  • Sering menyelipkan humor saat bercerita.

Nah, apabila Bunda memiliki anak dengan kecerdasan linguistik, Bunda dapat mencoba mengarahkan anak untuk meniti karir di bidang yang sesuai seperti penulis, jurnalis, lawyer, atau guru.

2. Kecerdasan Logika-Matematika (Logical-mathematical Intelligence)

Bun, anak dengan kecerdasan logika-matematika memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menganalisis masalah secara logis, menyelesaikan persoalan matematika, dan menyelidiki permasalahan secara ilmiah.

Anak-anak yang kuat dalam area kecerdasan ini cenderung berpikir secara konseptual tentang angka, hubungan sebab-akibat, dan pola sehingga di sekolah pada umumnya anak-anak dengan kecerdasan logika matematika akan terlihat lebih berprestasi secara akademis.

Otaknya akan sangat mudah dalam memproses penjelasan matematika yang disampaikan oleh Ibu guru di kelas sebab ia mampu memahami berbagai ide-ide abstrak. Jadi ketika diberi persoalan matematika yang tergolong kompleks bagi usianya, si Kecil bisa memecahkannya dengan baik.

Dengan keahlian dan karakteristik tersebut, anak dengan kecerdasan logika-matematika akan cocok untuk berkarir sebagai ilmuwan, ahli matematika, programmer, akuntan, atau engineer.

3. Kecerdasan Kinestetik (Bodily-kinesthetic Intelligence)

Si Kecil tampak senang bergerak aktif dan cepat pintar ketika diajari berbagai macam teknik olahraga? Pssst, si Kecil mungkin memiliki kecerdasan kinestetik, Bun!

Seorang anak dengan kecerdasan kinestetik akan memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengelola dan mengkoordinasikan tubuh sehingga performanya akan sangat bagus saat mengikuti pelajaran olahraga atau menari di sekolah.

Selain itu, anak dengan kecerdasan kinestetik juga memiliki koordinasi tangan dan mata yang baik sehingga sangat menyukai crafting, melukis, dan kegiatan tangan lainnya.

Oleh karena itu, anak dengan kecerdasan kinestetik umumnya memang tidak bisa jika diminta untuk duduk diam di dalam kelas untuk mendengarkan penjelasan dari Ibu dan Bapak guru. Semua penjelasan yang dikatakan akan membal keluar dari kepalanya.

Untuk anak dengan kecerdasan kinestetik Bunda dan Bapak-Ibu di sekolah perlu memfasilitasi kegiatan belajar dengan berbagai macam eksperimen atau kegiatan yang melibatkan gerak tubuh.

Contohnya dalam pelajaran berhitung, ajak anak untuk mengenal angka sambil melompat. Saat Ibu guru mengangkat flash card bergambar angka 1, si Kecil perlu melompat sekali. Kalau flash card menunjukkan angka 5, berarti si Kecil perlu melompat lima kali.

Sedangkan untuk karir masa depan si Kecil, Bunda dapat mengarahkannya kepada profesi yang memerlukan olah tubuh yang baik seperti penari, seniman, ahli bedah, aktor, dan atlet.

4. Kecerdasan Spasial (Spatial Intelligence

Bunda mungkin akan dibuat pusing ketika harus menemukan jalan keluar dari sebuah garden maze yang berputar-putar. Namun, tidak bagi si Kecil yang memiliki kecerdasan spasial. Ia akan sangat menikmati permainan ini!

Seorang anak dengan kecerdasan spasial pandai dalam memvisualisasikan dan mengenali pola ruang yang luas maupun area yang lebih terbatas. Oleh karena itu, anak dengan kecerdasan spasial sangat baik dalam mengenali arah, membaca peta, menyusun puzzle, membaca grafik, memahami video, dan memahami gambar.

Fakta tersebut membuat anak dengan kemampuan spasial cocok mendalami karir sebagai desainer grafis, seniman, arsitek, atau engineer.

5. Kecerdasan Musikal (Musical Intelligence

Si Kecil senang sekali ketika Mama memutarkan lagu anak-anak. Ia akan dengan semangat turut menyanyikan lagu yang sedang diputar. Namun, di usianya yang masih belia Bunda menyadari nyanyian si Kecil berada pada nada yang tepat. Tidak terdengar fals meskipun pelafalannya masih belum sempurna.

Selain itu, si Kecil juga sangat cepat menghafal berbagai macam lagu anak-anak dan suka bersenandung sambil bermain atau duduk di dalam mobil. Bunda, sepertinya si Kecil memiliki kecerdasan musikal!

Selain suka dan pandai bernyanyi, anak dengan kecerdasan musikal memiliki tingkat apresiasi yang tinggi terhadap musik. Ia juga mampu mengenali jenis suara, perbedaan nada, serta ritme sebuah suara. Kemampuan ini membuat si Kecil mampu memainkan instrumen musik untuk menirukan maupun menyusun karya musik sendiri.

Apabila si Kecil memiliki kecerdasan musikal yang tinggi dan diasah dengan baik, ia dapat memiliki karir yang cemerlang sebagai  musisi, komposer, penyanyi, konduktor, atau guru musik.

6. Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence)

Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal cenderung lebih pandai dalam berkomunikasi, peka terhadap emosi orang lain, mudah dalam menyesuaikan diri, memilki rasa empati yang tinggi dan suka menolong orang lain.

Hal tersebut membuat seseorang dengan kecerdasan interpersonal lebih pandai dalam menjalin hubungan pertemanan dan menguasai keadaan bahkan di tempat baru. Jadi, seorang dengan kecerdasan interpersonal sering diasosiasikan sebagai seorang ekstrovert.

7. Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence)

Bunda, jika si Kecil diberkahi dengan kecerdasan intrapersonal ia akan memiliki pemahaman yang baik tentang dirinya sendiri. Ia dapat menganalisa dengan baik apa yang sedang dirasakan, bagaimana kondisi emosionalnya, hingga apa yang menjadi motivasi dan ketakutan terbesarnya dalam melakukan sesuatu.

Hal tersebut membuat si Kecil menikmati proses merefleksikan dan menganalisis diri sendiri, melamun, menguji kekuatan personal, dan menilai hubungannya dengan orang lain. Nah, biasanya anak dengan kecerdasan intrapersonal tumbuh menjadi seorang introvert.

Bunda dapat mendukung kecerdasan si Kecil dengan mengajari mereka menulis jurnal harian, mendaftarkan si Kecil ke klub diskusi dan membaca, atau merefleksikan kegiatan sehari-hari dengan melakukan percakapan mendalam.

Bunda, dengan bekal kemampuan tersebut si Kecil memiliki kesempatan yang baik untuk berkarir sebagai seorang penulis atau ilmuwan.

8. Kecerdasan Naturalis (Naturalistic Intelligence)

Anak dengan kecerdasan naturalis bukan hanya berbakat untuk merawat dan menjalin hubungan baik dengan hewan. Selain itu, si Kecil juga memiliki kemampuan untuk mengenali serta membedakan berbagai flora dan fauna.

Hal tersebut membuat seorang anak naturalis sangat tertarik untuk memelihara dan mengeksplorasi lingkungan, belajar tentang berbagai macam spesies, serta sangat peka terhadap perubahan lingkungan.

Oh iya Bun, di sekolah si Kecil mungkin akan menunjukkan keengganan untuk belajar sesuatu yang tidak berkaitan dengan alam sebab ketertarikan mereka berpusat pada pelajaran biologi, zoologi, dan botani.

Untuk memfasilitasi kecerdasan naturalis si Kecil, Bunda dapat memperbolehkan si Kecil memelihara beberapa hewan di rumah seperti ikan, kucing, ayam, atau anjing. Pilih salah satu yang dapat Bunda toleransi dan tidak menimbulkan alergi bagi anggota keluarga lain.

Selain itu, Bunda juga bisa mengajak si Kecil berkebun, mengunjungi kebun binatang, bermain ke pantai, atau mengunjungi pusat konservasi flora dan fauna.

 

Klik di sini untuk pemesanan Aqiqah Nurul Hayat :

 

Source : nutriclub

Hukum Mencukur Rambut Bayi Saat Aqiqah

  Hukum Mencukur Rambut Bayi Saat Aqiqah SEPUTAR AQIQAH · 19/09/2023 Hukum Mencukur Rambut Bayi Saat Aqiqah.  Kekayaan Indonesia akan ragam ...